Sampah Lacolla

#PuisiRomantisRTC #PictLucu  #EventMini
Diikutsertakan di event mini komunitas Rumpies the club, disubmit tgl 27/02/2018 via facebook mereka. 

‘Sampah Lacolla’
Tiba-tiba mataku tertumbuk pada satu bungkusan dibalik bebatuan

Batu-batu indah air terjun Lacolla

Air terjun tujuh tingkat di perbatasan kabupaten Maros – Bone

Kutelisik, ups, itu bungkusan sampah

Dan ternyata ia tidak sendiri.
Di sebelah sana, ada bungkus permen, bungkus makanan ringan kesukaan anak-anak, botol plastik minuman kopi – ah yang ini sih pasti ulah lelaki,  dan..  ah di sana juga, di situ juga. 
Saat itu saya ingin tertawa sekeras-kerasnya

Mengalahkan suara keras deburan jatuhan air terjun

Air terjun persembahan alam untuk penikmatnya, penggunanya, terutama kami si pencinta alam
Tertawa karena melihat sisa kelakuan bodoh manusia-manusia

Yang menyisakan sampah

Sampah sampah sisa kepongahan mereka

Yang juga adalah kebodohan mereka

Mengotori tempat yang indah ini
Entah kepada siapa kekesalan ini harus kujejakkan

Kuminta kepada teman untuk membawa sisa sampah-sampah kami 

Dan juga sampah-sampah sisa manusia-manusia bodoh itu

Sebisa kami
Sambil berpamitan kepada air terjun Lacolla

Kutuliskan bait puisi ini

Kepada kita semua

Jangan tiru mereka

Yang melampiaskan syahwat kejumudan

Dengan membuang sampah sembarangan

Di tempat yang indah dan asri ini

Lacolla, maafkan mereka 😕😢

@kangbugi

Advertisements

Tidak mau hanya jadi buih

buih

Buih (sumber foto: diahriz.tumblr.com)

Yuk kita silaturahmi karena Allah, bukan karena politik,

Yuk kita baca Al Quran (tadabbur) karena Allah, bukan karena politik,

Yuk kita shalat (subuh) karena Allah, bukan karena politik,

Yuk kita beragama yang santun dan ma’ruf, bukan yang penuh dengan hasutan, caci-maki dan kedengkian,

Insya Allah beragama jadi karena Allah, bukan karena politik,

Insya Allah beragama jadi karena Allah, bukan karena orang lain.

Insya Allah beragama jadi karena Allah, karena aku tidak mau hanya jadi buih.

Aamiin YRA.

{Diposting juga di sini]

Pintu blum terbuka

pintu-dj-barokah

Pintu (sumber foto: meubel.djibarokah.com)

*Pintu belum terbuka*

Kutunggu terus,
belum juga terbuka pintu itu,
kutunggu penuh harap,
kunanti penuh asa,
namun, tiada makna tanpa daya.

lelah menunggu?
tidak,
Kutahu Ia yang dibelakang sana,
tengah mengujiku,
tengah menempaku,
agar aku tabah,
agar aku kuat,
agar aku bijak,
memaknai penantian itu.

kuyakin pintu itu akan terbuka,
kelak disaat yang tepat,
menurut Ia,
sang pemilik pintu,
bukan menurutku.

Akukan sabar, Tuhan,
menanti terbukanya pintuMu.

Makassar, 21 Januari 2017

Diposting juga di sini

Tuhan saya tidak garang, entah Tuhanmu?

clipartkiddotcom

Tuhan, saya kok terusik ya oleh temlen-temlen di media sosial yang akhir-akhir ini cenderung didominasi oleh satu paket bahasan yaitu pilkada DKI dan Ahok,

Tentu Engkau sudah Maha Mahfum akan hal ini secara gamblang dan sudah ada dalam takdir yang Engkau gariskan,

Jika memungkinkan, ingin sekali saya bertemu Engkau untuk menanyakan kebingungan-kebingungan ini, manakah yang benar?

Setiap memulai sesuatu hal, kami dianjurkan memulainya dengan menyebutMu yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Tetapi akhir-akhir ini, sebagian hambaMu justru menjauhkan keMahaPengasihanMu dan keMahaPenyayanganMu dengan terang-terangan,

dengan berselubung (seolah-olah) pakaian agamaMu.

 

Mereka garang, mereka beringas, mereka ngotot, mereka fasih menghamburkan kata-kata sompral, makian, cacian dan banyak kata-kata kotor lainnya,

Bahkan isi doa-doa merekapun berhamburan kata-kata yang kasar dan tidak pantas disebut sebagai doa, bentuk komunikasi tertinggi manusia dengan Engkau, ya Tuhan.

 

Mereka berdemonstrasi, walau dibolehkan negara, tetapi demonstrasi diharamkan olehMu, mereka berunjuk rasa, yang menimbulkan kerugian bagi kebanyakan warga,

Mereka tetap berdemonstrasi, tiada menghiraukan syariatMu yang Engkau anjurkan caraMu dalam menyampaikan pendapat, yang tidak menimbulkan lebih banyak mudharat tapi manfaat,

Mereka tiada menghiraukan pendapat-pendapat banyak ulama yang berbeda pendapat dengan mereka,

Mereka tiada mempedulikannya,

Mereka tetap memaksakan kehendak.

 

Yang berbeda pendapat – walau seagama, mereka tuduh munafik,

Mereka tuduh tidak berakidah,

Mereka tuduh kafir! Hanya mereka yang akan meraih surgaMu. Nauzubillah.

 

Padahal tuduh-menuduh tanpa kebenaran, Engkau haramkan,

Padahal tuduh-menuduh berdasar nafsu, Engkau haramkan,

Padahal kami Engkau minta untuk berpikir yang didasarkan kepada kitabMu serta perilaku nabiMu

Padahal perbedaanpun Engkau tetapkan sebagai salah satu rahmatMu,

Lantas, mengapa mereka tetap memaksakan kehendak, bahwa pendapat merekalah yang hanya paling benar,

Pendapat yang lain salah! Pendapat ulama lain salah! Selainnya Kafir!

Innalillah.

 

Tuhan, terkait Ahok, ada satu pertanyaan mendasar saya, apakah ia juga ciptaanMu?

Mereka memperlakukannya tidak!

Seolah-olah kekafirannya itu, menyebabkan mereka menghalalkan darahnya,

Ia tidak boleh ada dimuka bumi ini. Kesalahannya seolah tiada terampuni,

Disaat banyak ulama menyetujui maafnya, dengan proses hukum disesuaikan dengan peraturan negara yang berlaku,

Mereka tidak!

 

Tidak seperti ke-Rahman-an Engkau, tidak seperti ke-Rahim-an Engkau,

Engkau menyediakan firman pemberian maaf lebih baik.

Sayapun yakin bila kemunculan Ahok di bumi Indonesia ini adalah rancangan Engkau, nasehat Engkau.

Mereka tidak menggunakan firmanMu, mereka menginterpretasikan firmanMu sesuai seleranya.

 

Engkau memiliki rencana AgungMu bagi kami,

Termasuk menghadirkan fenomena Ahok,

Mungkin sebagai contoh, yang tidak berislam memiliki kemampuan baik dalam melayani masyarakat,

Apatah lagi bila muslim yang berlaku sebagai pelayan, ditengah-tengah fenomena banyak pelayan-pelayan masyarakat,

Yang mengaku berIslam, tetapi kelakukannya jauh panggang dari api, yang kelakuannya justru memalukan Engkau.

 

Tapi mereka tidak.

 

Tuhan, sangat ingin kami berkonsultasi langsung denganMu,

Namun hal itu tiada dimungkinkan.

Semenjak Engkau panggil kembali kekasihMu yang paling Engkau cintai,

Engkau sudah cukupkan segala bekal bagi kami dalam kitabMu dan perilaku kekasihMu,

Sebagai bekal hingga bertemu denganMu kelak tanpa harus mendengar pesan-pesan AgungMu melalui nabi Engkau.

 

Tuhan, saya yakin Engkau lebih menganjurkan cara yang santun dan telah Engkau contohkan daripada cara yang garang dan tidak sesuai dengan syariatMu,

Tuhan, saya rindu ke-Rahman-an dan ke-Rahim-an Mu yang berwujud nyata,

Hingga kami merasa dalam pelukanMu, dalam genggaman sayangMu.

 

Tuhan, saya yakin Engkau adalah Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menguasai segala kehendak dan  bukan Tuhan yang garang, yang menakut-nakuti.

Tuhan, semoga Engkau tidak izinkan mereka memiliki agenda buruk yang masih tersembunyi untuk berbuat mudharat,

Tuhan, semoga Engkau turunkan segala Rahmat KebijaksanaanMu kepada bangsa kami, agar kami bisa lebih bermanfaat dalam pandanganMu,

Dalam ridhoMu.

 

Saya yakin Engkau tidak garang, entah untuk mereka?

 

Catatan: sumber foto: artklipkids.com

[Diposting juga di: http://fiksiana.kompasiana.com/bugisumirat/tuhan-saya-tidak-garang-entah-tuhanmu_58150b6c6c7a61eb399aae8d]

Kedok agama (?)

topeng

Demonstrasi kelompok ormas ini berakhir,

Demonstrasi yang jadi kegiatan utamanya,

Demonstrasi yang jadi panutannya,

Demonstrasi yang selalu diberi label Islam,

Supaya demonstrasinya ‘laku’

 

Padahal demonstrasi diharamkan dalam Islam,

Apa mereka peduli?

Padahal bermudharat lebih banyak dari manfaatnya,

Apa mereka peduli?

Banyak warga masyarakat yang dirugikan,

Apa mereka peduli?

 

Mereka mengedepankan nafsu,

Mereka haus akan nafsu,

Karena tidak mau mendengar orang lain,

Mereka haus akan citra,

Karena itu kendaraannya,

Mereka haus dampak politis,

Karena itu tujuannya.

 

Kalau benar mereka beraspirasi,

Tidak akan melibatkan anak-anak,

Tidak akan merusak taman-taman,

Tidak akan menumpuk sampah sisa,

Tidak akan membagikan nasi bungkus dengan uang terselip,

Tidak akan merugikan warga kebanyakan lain.

 

Tapi apa mereka peduli?

 

Warga terhalang karena macet,

Warga terganjal urusannya,

Warga kesal dibuatnya,

Warga marah dibuatnya,

Cuma mereka tidak berbuat apa-apa,

Itu keuntungannya untuk kamu.

 

Mereka bilang demonstrasi untuk aqidah!

Demonya justru merusak aqidah.

Merugikan urusan mayoritas warga lain,

Dimana aqidahnya?

Memaksakan kehendak,

Dimana aqidahnya?

Berkata-kata kasar,

Dimana aqidahnya?

Mengancam-ngancam,

Dimana aqidahnya?

Bermaki-maki sepanjang jalan,

Dimana aqidahnya?

Memprovokasi,

Dimana aqidahnya?

Membawa anak-anak dan ibunya,

Dimana aqidahnya?

Merusakkan taman-taman,

Dimana aqidahnya?

Menebar sampah sisa,

Dimana aqidahnya?

Melibatkan lebih banyak warga luar,

Dimana aqidahnya?

 

Kami tak habis mengerti,

Karena yang dilakukan justru merusak aqidah.

 

Mereka bilang demonstrasi untuk Islam!

Padahal tidak ada mandat dari masyarakat muslim,

Padahal berperilaku yang tidak Islami,

Padahal mencederai Islam,

Padahal menggunakan cara tidak Islami,

Padahal menzholimi warga masyarakat,

Padahal merusak nama Islam

Padahal tidak sesuai syariat Islam,

Padahal diharamkan dalam Islam.

 

Tapi mereka jalan terus,

Berani menentang jalur Islam,

Menentang syariat Allah,

Untuk suatu tujuan yang belum jelas,

Karena hal yang disuarakan masih absurd.

 

Kami bingung melihatnya,

Tapi disitulah kenekatannya,

Yang membuat kami geleng-geleng kepala.

 

Seorang dosen UGM, pagi ini mengingatkan,

Bahaya berkedok agama untuk negara,

Untuk politik agama.

 

Berkedok agama?

Saya menyegarkan ingatanku,

Siapakah yang dimaksud?

Rupanya semua sudah mahfum,

Mari kita berlepas diri darinya,

Jangan mengikuti,

Untuk menghindari bahaya itu,

Untuk menghindari benci Allah atas kita,

Untuk menghindari murka Allah atas kita.

 

Aamiin YRA.

[sumber foto: allexpress.com]

Aku ngeri Islam yang itu

world-peace-openclipartdotorg

Aku muslim,

 

Tapi kok aku jadi ngeri Islam yang itu ya,

Seperti bukan Islam yang aku anut,

Seperti bukan Islam yang aku kenal selama ini,

Seperti bukan islam yang didalamnya aku mengenal Allah,

Mengenal Muhammad, kekasihNya.

 

Allah, melalui Islam mengajarkan keEsaan untuk semata diriNya

Tiada ilah yang lain dan itu aku percayai, aku yakini.

 

Sebagai pemilik segala semesta,

Ia menunjukkan kekuatanNya, keperkasaanNya,

Yang Maha Besar,

Yang Maha Agung.

 

KeMahaBesaranNya itu, terlihat dari penciptaan dan ciptaanNya,

Pun dari perilaku kekasihMu, Muhammad

 

Muhammad, Habib Allah, kekasih Allah, kepadanya kita berkhidmad

Sebagai umat, sebagai pengikut,

Melalui ucapan-ucapannya,

Melalui perilaku-perilakunya,

Melalui kalam-kalam Ilahi yang disampaikan melaluinya,

Untuk kita acu,

Untuk kita ikuti,

Untuk kita pedomani,

Untuk kita imani,

Untuk kita hidupi.

 

Melalui KeperkasaanNya,

Ia ciptakan manusia,

Ia ciptakan hewan,

Ia ciptakan tumbuhan,

Ia ciptakan udara untuk bernapas,

Ia ciptakan air,

Ia ciptakan tanah,

Ia ciptakan api,

Ia ciptakan ….

Ia ciptakan ….

Segala macam,

Berbagai ragam.

 

Sunda, ciptaanNya,

Jawa, ciptaanNya,

Padang, ciptaanNya,

 

Wong Amerika, pun ciptaanNya,

Wong Australia, wong jepun, wong cino,

Wong malay, wong Indonesia, dan wong-wong lainnya ….

Juga ciptaanNya.

 

Akankah Ia menciptakan saya, kamu, kita dan makhluk lainnya tanpa maksud?

Akankah Ia menciptakan manusia untuk saling merugikan, saling menjatuhkan?

Saling gontok, saling cakar, saling pukul, saling sikat ….?

 

Tidak, kita diminta untuk saling mengenal, saling bekerja sama.

 

Akankah yang satu lebih dari yang lain?

Yang satu superior dan lainnya inferior?

 

Tidak, kita adalah sama dihadapanNya.

Sesama ciptaanNya.

 

Ia menciptakan kita dengan penuh kasihNya

Ia menciptakan kita dengan memberikan sebagian ruhNya

 

Ia minta kita menyembahNya

Sebagai bentuk syukur kita.

 

Itu yang saya pahami.

 

Muhammadpun demikian.

 

Memberikan contoh kasihnya melebihi ketegasannya.

 

Ingat saat ia dimaki, dicaci oleh seorang yahudi buta?

Ia tidak membalas bahkan menyuapinya.

 

Aku muslim,

 

Tapi Islam yang itu ko lebih memilih kekerasan dari kasih?

Islam yang itu ko milih potong kaki dan memenggal kepala untuk yang berbeda?

 

Apakah itu Islam yang diturunkanNya?

Apakah itu Islam yang dicontohkannya?

Aku melihatnya berbeda.

 

Kalau ada perbedaan, mengapa kita tidak tetap berdampingan dengan damai?

Kalau ada perbedaan, mengapa tidak disikapi dengan bijaksana?

Kalau ada perbedaan, mengapa tidak disikapi dengan santun?

 

Seperti yang dituntunkanNya,

Seperti yang dicontohkannya.

 

Aku muslim,

Tapi aku ngeri Islam yang itu.

Salam damai untuk kita semua.

@kangbugi

[Diposting juga di sini: http://fiksiana.kompasiana.com/bugisumirat/aku-ngeri-islam-yang-itu_58002cf177937394048b4573]

Note: sumber foto openclipart.org

Manusia jempol

Kamu tuh bicara apa sih,

Di group ko rame banget,

Iya, group whatsapp itu loh,

Kok kamu ngomong terus sih.

 

Di group itu, pagi kamu eksis terus,

Siang kamu eksis abis,

Sore, muncul juga,

Lha malam makin menjadi-jadi.

 

Jempolmu bergerak terus,

Ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah,

Persis senam maumere,

Apa aja dikomen,

Apa aja ditulis,

Apa aja dicela,

Apa aja digrusuhi,

Apa aja di …….

 

Lha kamu itu kerjanya apa sih,

Penasaran lho aku,

Kapan ngantornya,

Kapan masaknya,

Kapan nyucinya,

Kapan nyetrikanya,

Kapan kerja lain-lainnya,

Kapan ngurusin keluarganya?

Karena jempolmu bersenam maumere terus.

 

Mudah-mudahan bukan bentuk kecanduan,

Mudah-mudahan bukan bentuk kegalauan,

Mudah-mudahan bukan kegundahan,

Sehingga kamu eksis abis di group whatsapp.

 

Mudah-mudahan juga bukan jadi jempol yang rumpi,

Yang senangnya ngrasani wong,

Yang senangnya ngrusuhi wong,

Yang senangnya ng-bully wong,

Yang senangnya ngapusi wong,

Yang senangnya ……

 

Jempolmu tetap menari maumere,

Semoga kamu tidak tergelincir,

Sehingga jempolmu berlendir,

Karena kamu ko malah semakin pandir.

 

Makassar, hari ini, Fri – 2 September 2016

Gie Kama