Tidak mau hanya jadi buih

buih

Buih (sumber foto: diahriz.tumblr.com)

Yuk kita silaturahmi karena Allah, bukan karena politik,

Yuk kita baca Al Quran (tadabbur) karena Allah, bukan karena politik,

Yuk kita shalat (subuh) karena Allah, bukan karena politik,

Yuk kita beragama yang santun dan ma’ruf, bukan yang penuh dengan hasutan, caci-maki dan kedengkian,

Insya Allah beragama jadi karena Allah, bukan karena politik,

Insya Allah beragama jadi karena Allah, bukan karena orang lain.

Insya Allah beragama jadi karena Allah, karena aku tidak mau hanya jadi buih.

Aamiin YRA.

{Diposting juga di sini]

Advertisements

Pintu blum terbuka

pintu-dj-barokah

Pintu (sumber foto: meubel.djibarokah.com)

*Pintu belum terbuka*

Kutunggu terus,
belum juga terbuka pintu itu,
kutunggu penuh harap,
kunanti penuh asa,
namun, tiada makna tanpa daya.

lelah menunggu?
tidak,
Kutahu Ia yang dibelakang sana,
tengah mengujiku,
tengah menempaku,
agar aku tabah,
agar aku kuat,
agar aku bijak,
memaknai penantian itu.

kuyakin pintu itu akan terbuka,
kelak disaat yang tepat,
menurut Ia,
sang pemilik pintu,
bukan menurutku.

Akukan sabar, Tuhan,
menanti terbukanya pintuMu.

Makassar, 21 Januari 2017

Diposting juga di sini

Tuhan saya tidak garang, entah Tuhanmu?

clipartkiddotcom

Tuhan, saya kok terusik ya oleh temlen-temlen di media sosial yang akhir-akhir ini cenderung didominasi oleh satu paket bahasan yaitu pilkada DKI dan Ahok,

Tentu Engkau sudah Maha Mahfum akan hal ini secara gamblang dan sudah ada dalam takdir yang Engkau gariskan,

Jika memungkinkan, ingin sekali saya bertemu Engkau untuk menanyakan kebingungan-kebingungan ini, manakah yang benar?

Setiap memulai sesuatu hal, kami dianjurkan memulainya dengan menyebutMu yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Tetapi akhir-akhir ini, sebagian hambaMu justru menjauhkan keMahaPengasihanMu dan keMahaPenyayanganMu dengan terang-terangan,

dengan berselubung (seolah-olah) pakaian agamaMu.

 

Mereka garang, mereka beringas, mereka ngotot, mereka fasih menghamburkan kata-kata sompral, makian, cacian dan banyak kata-kata kotor lainnya,

Bahkan isi doa-doa merekapun berhamburan kata-kata yang kasar dan tidak pantas disebut sebagai doa, bentuk komunikasi tertinggi manusia dengan Engkau, ya Tuhan.

 

Mereka berdemonstrasi, walau dibolehkan negara, tetapi demonstrasi diharamkan olehMu, mereka berunjuk rasa, yang menimbulkan kerugian bagi kebanyakan warga,

Mereka tetap berdemonstrasi, tiada menghiraukan syariatMu yang Engkau anjurkan caraMu dalam menyampaikan pendapat, yang tidak menimbulkan lebih banyak mudharat tapi manfaat,

Mereka tiada menghiraukan pendapat-pendapat banyak ulama yang berbeda pendapat dengan mereka,

Mereka tiada mempedulikannya,

Mereka tetap memaksakan kehendak.

 

Yang berbeda pendapat – walau seagama, mereka tuduh munafik,

Mereka tuduh tidak berakidah,

Mereka tuduh kafir! Hanya mereka yang akan meraih surgaMu. Nauzubillah.

 

Padahal tuduh-menuduh tanpa kebenaran, Engkau haramkan,

Padahal tuduh-menuduh berdasar nafsu, Engkau haramkan,

Padahal kami Engkau minta untuk berpikir yang didasarkan kepada kitabMu serta perilaku nabiMu

Padahal perbedaanpun Engkau tetapkan sebagai salah satu rahmatMu,

Lantas, mengapa mereka tetap memaksakan kehendak, bahwa pendapat merekalah yang hanya paling benar,

Pendapat yang lain salah! Pendapat ulama lain salah! Selainnya Kafir!

Innalillah.

 

Tuhan, terkait Ahok, ada satu pertanyaan mendasar saya, apakah ia juga ciptaanMu?

Mereka memperlakukannya tidak!

Seolah-olah kekafirannya itu, menyebabkan mereka menghalalkan darahnya,

Ia tidak boleh ada dimuka bumi ini. Kesalahannya seolah tiada terampuni,

Disaat banyak ulama menyetujui maafnya, dengan proses hukum disesuaikan dengan peraturan negara yang berlaku,

Mereka tidak!

 

Tidak seperti ke-Rahman-an Engkau, tidak seperti ke-Rahim-an Engkau,

Engkau menyediakan firman pemberian maaf lebih baik.

Sayapun yakin bila kemunculan Ahok di bumi Indonesia ini adalah rancangan Engkau, nasehat Engkau.

Mereka tidak menggunakan firmanMu, mereka menginterpretasikan firmanMu sesuai seleranya.

 

Engkau memiliki rencana AgungMu bagi kami,

Termasuk menghadirkan fenomena Ahok,

Mungkin sebagai contoh, yang tidak berislam memiliki kemampuan baik dalam melayani masyarakat,

Apatah lagi bila muslim yang berlaku sebagai pelayan, ditengah-tengah fenomena banyak pelayan-pelayan masyarakat,

Yang mengaku berIslam, tetapi kelakukannya jauh panggang dari api, yang kelakuannya justru memalukan Engkau.

 

Tapi mereka tidak.

 

Tuhan, sangat ingin kami berkonsultasi langsung denganMu,

Namun hal itu tiada dimungkinkan.

Semenjak Engkau panggil kembali kekasihMu yang paling Engkau cintai,

Engkau sudah cukupkan segala bekal bagi kami dalam kitabMu dan perilaku kekasihMu,

Sebagai bekal hingga bertemu denganMu kelak tanpa harus mendengar pesan-pesan AgungMu melalui nabi Engkau.

 

Tuhan, saya yakin Engkau lebih menganjurkan cara yang santun dan telah Engkau contohkan daripada cara yang garang dan tidak sesuai dengan syariatMu,

Tuhan, saya rindu ke-Rahman-an dan ke-Rahim-an Mu yang berwujud nyata,

Hingga kami merasa dalam pelukanMu, dalam genggaman sayangMu.

 

Tuhan, saya yakin Engkau adalah Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menguasai segala kehendak dan  bukan Tuhan yang garang, yang menakut-nakuti.

Tuhan, semoga Engkau tidak izinkan mereka memiliki agenda buruk yang masih tersembunyi untuk berbuat mudharat,

Tuhan, semoga Engkau turunkan segala Rahmat KebijaksanaanMu kepada bangsa kami, agar kami bisa lebih bermanfaat dalam pandanganMu,

Dalam ridhoMu.

 

Saya yakin Engkau tidak garang, entah untuk mereka?

 

Catatan: sumber foto: artklipkids.com

[Diposting juga di: http://fiksiana.kompasiana.com/bugisumirat/tuhan-saya-tidak-garang-entah-tuhanmu_58150b6c6c7a61eb399aae8d]

Kedok agama (?)

topeng

Demonstrasi kelompok ormas ini berakhir,

Demonstrasi yang jadi kegiatan utamanya,

Demonstrasi yang jadi panutannya,

Demonstrasi yang selalu diberi label Islam,

Supaya demonstrasinya ‘laku’

 

Padahal demonstrasi diharamkan dalam Islam,

Apa mereka peduli?

Padahal bermudharat lebih banyak dari manfaatnya,

Apa mereka peduli?

Banyak warga masyarakat yang dirugikan,

Apa mereka peduli?

 

Mereka mengedepankan nafsu,

Mereka haus akan nafsu,

Karena tidak mau mendengar orang lain,

Mereka haus akan citra,

Karena itu kendaraannya,

Mereka haus dampak politis,

Karena itu tujuannya.

 

Kalau benar mereka beraspirasi,

Tidak akan melibatkan anak-anak,

Tidak akan merusak taman-taman,

Tidak akan menumpuk sampah sisa,

Tidak akan membagikan nasi bungkus dengan uang terselip,

Tidak akan merugikan warga kebanyakan lain.

 

Tapi apa mereka peduli?

 

Warga terhalang karena macet,

Warga terganjal urusannya,

Warga kesal dibuatnya,

Warga marah dibuatnya,

Cuma mereka tidak berbuat apa-apa,

Itu keuntungannya untuk kamu.

 

Mereka bilang demonstrasi untuk aqidah!

Demonya justru merusak aqidah.

Merugikan urusan mayoritas warga lain,

Dimana aqidahnya?

Memaksakan kehendak,

Dimana aqidahnya?

Berkata-kata kasar,

Dimana aqidahnya?

Mengancam-ngancam,

Dimana aqidahnya?

Bermaki-maki sepanjang jalan,

Dimana aqidahnya?

Memprovokasi,

Dimana aqidahnya?

Membawa anak-anak dan ibunya,

Dimana aqidahnya?

Merusakkan taman-taman,

Dimana aqidahnya?

Menebar sampah sisa,

Dimana aqidahnya?

Melibatkan lebih banyak warga luar,

Dimana aqidahnya?

 

Kami tak habis mengerti,

Karena yang dilakukan justru merusak aqidah.

 

Mereka bilang demonstrasi untuk Islam!

Padahal tidak ada mandat dari masyarakat muslim,

Padahal berperilaku yang tidak Islami,

Padahal mencederai Islam,

Padahal menggunakan cara tidak Islami,

Padahal menzholimi warga masyarakat,

Padahal merusak nama Islam

Padahal tidak sesuai syariat Islam,

Padahal diharamkan dalam Islam.

 

Tapi mereka jalan terus,

Berani menentang jalur Islam,

Menentang syariat Allah,

Untuk suatu tujuan yang belum jelas,

Karena hal yang disuarakan masih absurd.

 

Kami bingung melihatnya,

Tapi disitulah kenekatannya,

Yang membuat kami geleng-geleng kepala.

 

Seorang dosen UGM, pagi ini mengingatkan,

Bahaya berkedok agama untuk negara,

Untuk politik agama.

 

Berkedok agama?

Saya menyegarkan ingatanku,

Siapakah yang dimaksud?

Rupanya semua sudah mahfum,

Mari kita berlepas diri darinya,

Jangan mengikuti,

Untuk menghindari bahaya itu,

Untuk menghindari benci Allah atas kita,

Untuk menghindari murka Allah atas kita.

 

Aamiin YRA.

[sumber foto: allexpress.com]

Aku ngeri Islam yang itu

world-peace-openclipartdotorg

Aku muslim,

 

Tapi kok aku jadi ngeri Islam yang itu ya,

Seperti bukan Islam yang aku anut,

Seperti bukan Islam yang aku kenal selama ini,

Seperti bukan islam yang didalamnya aku mengenal Allah,

Mengenal Muhammad, kekasihNya.

 

Allah, melalui Islam mengajarkan keEsaan untuk semata diriNya

Tiada ilah yang lain dan itu aku percayai, aku yakini.

 

Sebagai pemilik segala semesta,

Ia menunjukkan kekuatanNya, keperkasaanNya,

Yang Maha Besar,

Yang Maha Agung.

 

KeMahaBesaranNya itu, terlihat dari penciptaan dan ciptaanNya,

Pun dari perilaku kekasihMu, Muhammad

 

Muhammad, Habib Allah, kekasih Allah, kepadanya kita berkhidmad

Sebagai umat, sebagai pengikut,

Melalui ucapan-ucapannya,

Melalui perilaku-perilakunya,

Melalui kalam-kalam Ilahi yang disampaikan melaluinya,

Untuk kita acu,

Untuk kita ikuti,

Untuk kita pedomani,

Untuk kita imani,

Untuk kita hidupi.

 

Melalui KeperkasaanNya,

Ia ciptakan manusia,

Ia ciptakan hewan,

Ia ciptakan tumbuhan,

Ia ciptakan udara untuk bernapas,

Ia ciptakan air,

Ia ciptakan tanah,

Ia ciptakan api,

Ia ciptakan ….

Ia ciptakan ….

Segala macam,

Berbagai ragam.

 

Sunda, ciptaanNya,

Jawa, ciptaanNya,

Padang, ciptaanNya,

 

Wong Amerika, pun ciptaanNya,

Wong Australia, wong jepun, wong cino,

Wong malay, wong Indonesia, dan wong-wong lainnya ….

Juga ciptaanNya.

 

Akankah Ia menciptakan saya, kamu, kita dan makhluk lainnya tanpa maksud?

Akankah Ia menciptakan manusia untuk saling merugikan, saling menjatuhkan?

Saling gontok, saling cakar, saling pukul, saling sikat ….?

 

Tidak, kita diminta untuk saling mengenal, saling bekerja sama.

 

Akankah yang satu lebih dari yang lain?

Yang satu superior dan lainnya inferior?

 

Tidak, kita adalah sama dihadapanNya.

Sesama ciptaanNya.

 

Ia menciptakan kita dengan penuh kasihNya

Ia menciptakan kita dengan memberikan sebagian ruhNya

 

Ia minta kita menyembahNya

Sebagai bentuk syukur kita.

 

Itu yang saya pahami.

 

Muhammadpun demikian.

 

Memberikan contoh kasihnya melebihi ketegasannya.

 

Ingat saat ia dimaki, dicaci oleh seorang yahudi buta?

Ia tidak membalas bahkan menyuapinya.

 

Aku muslim,

 

Tapi Islam yang itu ko lebih memilih kekerasan dari kasih?

Islam yang itu ko milih potong kaki dan memenggal kepala untuk yang berbeda?

 

Apakah itu Islam yang diturunkanNya?

Apakah itu Islam yang dicontohkannya?

Aku melihatnya berbeda.

 

Kalau ada perbedaan, mengapa kita tidak tetap berdampingan dengan damai?

Kalau ada perbedaan, mengapa tidak disikapi dengan bijaksana?

Kalau ada perbedaan, mengapa tidak disikapi dengan santun?

 

Seperti yang dituntunkanNya,

Seperti yang dicontohkannya.

 

Aku muslim,

Tapi aku ngeri Islam yang itu.

Salam damai untuk kita semua.

@kangbugi

[Diposting juga di sini: http://fiksiana.kompasiana.com/bugisumirat/aku-ngeri-islam-yang-itu_58002cf177937394048b4573]

Note: sumber foto openclipart.org

Manusia jempol

Kamu tuh bicara apa sih,

Di group ko rame banget,

Iya, group whatsapp itu loh,

Kok kamu ngomong terus sih.

 

Di group itu, pagi kamu eksis terus,

Siang kamu eksis abis,

Sore, muncul juga,

Lha malam makin menjadi-jadi.

 

Jempolmu bergerak terus,

Ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah,

Persis senam maumere,

Apa aja dikomen,

Apa aja ditulis,

Apa aja dicela,

Apa aja digrusuhi,

Apa aja di …….

 

Lha kamu itu kerjanya apa sih,

Penasaran lho aku,

Kapan ngantornya,

Kapan masaknya,

Kapan nyucinya,

Kapan nyetrikanya,

Kapan kerja lain-lainnya,

Kapan ngurusin keluarganya?

Karena jempolmu bersenam maumere terus.

 

Mudah-mudahan bukan bentuk kecanduan,

Mudah-mudahan bukan bentuk kegalauan,

Mudah-mudahan bukan kegundahan,

Sehingga kamu eksis abis di group whatsapp.

 

Mudah-mudahan juga bukan jadi jempol yang rumpi,

Yang senangnya ngrasani wong,

Yang senangnya ngrusuhi wong,

Yang senangnya ng-bully wong,

Yang senangnya ngapusi wong,

Yang senangnya ……

 

Jempolmu tetap menari maumere,

Semoga kamu tidak tergelincir,

Sehingga jempolmu berlendir,

Karena kamu ko malah semakin pandir.

 

Makassar, hari ini, Fri – 2 September 2016

Gie Kama

Free thinkers dalam beragama – free thinkers under religious manner

 

free-thinking

Free thinking

Indonesian [English version is below]

 

Umat beragama, berpikir dalam beragama, itu harus

Umat beragama, beranalisa dalam beragama, itu harus

Umat beragama, bernalar dalam beragama, itu harus

Umat beragama, berlogika dalam beragama, itu harus

 

Umat beragama, membaca dan mendengar petunjuk dari Sang Pemilik Agama,

itu harus

Umat beragama memperhatikan dan patuh kepada Sang Pemilik Agama, itu harus

 

Mengapa?

 

Karena kita, manusia, adalah ciptaanNya

Karena kita, manusia, adalah hambaNya

 

Wajarkan kalau yang diciptakan patuh pada yang menciptakan

Wajarkan kalau hamba patuh pada tuannya

Wajarkan kalau hamba bengal mendapat sangsi

Wajarkan kalau hamba baik mendapat penghargaan

 

Demikianlah proses reward dan punishment berjalan dalam beragama

Sesuai dengan keinginan dan kebijaksanaan nan Maha Pembuat Sistem

 

Kita tinggal mengimani

Kita tinggal menjalankan

Kita tinggal menjadi hambanya

 

Tidak ada yang aneh ….

 

Lalu bertanya, dimana proses berpikirnya?

Kapan menganalisanya? Bagaimana melogikakannya?

Menalarnya?

 

Disitulah keunikan beragama

 

Kita, seharusnya dalam beragama memberlakukan pembuktian koruptor yang dianjurkan, Pembuktian terbalik

 

Kalau sudah beragama,

mengapa tidak tekuni sambil mencari

mengapa tidak taati sambil menganalisa

mengapa tidak mematuhi sambil berlogika

 

Hingga menemukan yang dicari

Hingga menemukan yang diingini

Hingga menemukan yang masuk logika

 

Kalau itu yang diinginkan

Kalau tercapai nafsu mencari

Berarti sudah dalam zona yang diinginkan

Sebaliknya, kalau nafsu tidak terpuaskan

Kalau tidak bertemu yang dicari,

Maka pantas untuk ditinggalkan

 

Tapi ketika menihilkan diri untuk mencari

Ketika menihilkan diri untuk membuktikan

Tidak sampai-sampai kepada kesimpulan akhir

Maka mana yang dipilih,

Sebagai hamba atau sebagai pembangkang?

 

Mampu menjawab?

 

Mungkin ini adalah free thinkers,

Mungkin bangga menjadi bagiannya,

hanya …..

Semoga cukup waktu dan umur untuk mencari

Mencari kebenaran dan mencari dengan benar

—000o000—

English version

For religion follower, thinking in religion athmosphere, is a must
For the follower, religion must meet the analyses
For the follower, religion must meet logical reasoning
For the follower, use logic is a must

 

The follower has an obligation to read and hear the guidance from 
the Owner of the religion
The follower has an obligation to consider and obey towards 
the Owner of the religion

Why?

Because we, humans, are His creatures
Because we, humans, are His servants or slaves

It is natural if the creation totally obey to the Creator, isn't it?
It is natural if obedient servant above His Lord, isn't it?
It is natural if the stubborn slave gets sanctioned, isn't it?
it is natural if the good servant awarded, isn't it?

Thus the process of reward and punishment happens in religion
In accordance with the wishes and wisdom of the Supreme Builder System
 
We just need to believe
We just need to serve or carry out
We stay as His servants

Nothing strange, don't you think? ....

Then the question raised, so where is the thinking process?
When will we analyze it? How to put it logically?
Is it under logical reasoning?

That is where the uniqueness of religion

Perhaps it is better to use of proof method in religion manner

If we have had a religion,
why not elaborate your religion while exploring?
why not stick to your religion while analyzing?
why not obey your religion while you explore your logic widely?

Till you find what you are looking for
Till you find what you desire
Till you find how logic your religion is
or until you find how your logic is able to accept

If it is desired
If it is achieved your lust 
Means is already in the desired zone
Conversely, if lust is not satisfied
If it does not meet your requirement
Then it deserves to be abandoned or ignored

But when nullify themselves to seek
When nullify themselves to prove
Fail to achieve the final conclusion
So which one is selected,
As (to be) a servant or a dissident?

Able to answer?

It might be the way as free thinkers
Perhaps proud to be part of it
Hopefully enough time and age to continue questioning
Seeking the truth and seeking the truth through the correct way.

Makassar, hari Rabu, 14 Juni 2016

Gie Kama

[photo source: http://themindunleashed.org/2014/12/7-things-must-know-free-thinker.html